Posted by :
Rezki Ananda
Minggu, 15 November 2015
Siapa di sini yang sudah menonton film live-action pertama dari seri Shingeki no Kyojin yang sudah ditayangkan di bioskop lokal? Bagi kamu yang belum menontonnya, mungkin ulasan milik Nugrahadi ini bisa sedikit membantumu untuk memutuskan menonton filmnya. Walaupun menurut banyak orang, film ini tidak begitu baik sampai-sampai membuat sutradara Shinji Higuchi dan stafnya ikut panas di media sosial.
Film keduanya, Shingeki no Kyojin: End of The World akan
ditayangkan pada tanggal 19 September mendatang di bioskop-bioskop di Jepang.
Tentunya, film tersebut juga akan disiarkan di Indonesia dan diharapkan sudah
bisa ditayangkan pada bulan September ini. Namun pada acara advance screening
yang dihadiri berbagai macam media dan kritikus di Jepang, salah satu kritikus
film Toru Sano ternyata tidak terpukau dengan lanjutan film tersebut.
Sano kecewa dengan penyutradaraan dan dialog yang disuguhkan
film tersebut, bahkan Sano mengatakan film pertamanya menjadi “tidak
diperlukan” sampai ceritanya mengungkapkan misterinya. Sano juga mengkritik
performa Hiroki Hasegawa yang memerankan Shikishima, “Aku tidak benci Hiroki
Hasegawa. Tergantung filmnya, dia bisa menjadi seorang aktor yang baik. Namun,
sayangnya dialog yang memaksanya menjadi jahat, hanya itulah cara dia
memerankannya…. Semakin dia berusaha, semakin konyol rasanya. Hal ini berlaku
kepada semua pemeran film ini.”
“Setelah mengungkapkan kebenaran di balik misterinya, selain
adegan yang terlalu emosional, film ini bisa dibilang menjadi full action.
Namun susah rasanya untuk mengikuti pergerakan kemana orang-orang bergerak,
atau kemana mereka bergerak dengan 3D maneuver gear mereka. Jadi, adegan yang
menggabungkan efek spesial asli dengan efek visual post-production gagal untuk
menghasilkan adegan yang berdampak kuat.”
Sano kemudian mengkritik adegan saat mereka mengantarkan
kargo yang berbahaya melewati medan yang tidak rata, “Seharusnya, adegan ini
bisa menjadi sesuatu yang mendorong ceritanya ke arah yang lebih baik, namun
tidak jelas mereka mau mulai dari mana dan kemana mereka harus pergi… Hal ini
sangat tidak efektif bila mereka mencoba menanamkan rasa gawat dan meningkatkan
klimaksnya.”
Rangkaian kritik pedas Sano diakhiri dengan ekspresi kecewa
yang menganggap sebaiknya film kedua ini tidak usah ada.
“Setidaknya, lebih sedikit adegan membosankan yang ada di
film pertamanya… Seharusnya mereka memotong beberapa adegan yang terlalu
panjang dari kedua filmnya, dan buat saja satu film yang berdurasi 2 jam saja…
Seburuk ituluah film kedua ini.”
Berbeda dengan kebanyakan orang, Sano tidak mengkait-kaitkan
kritiknya dengan perbedaan film tersebut dengan source materialnya. Jadi,
kritik kali ini benar-benar mengkritik film Shingeki no Kyojin: End of the
World secara objektif sebagai film dan bukan sebagai adaptasi cerita asli.
Walaupun saya sendiri cukup menikmati film pertamanya, saya
setuju Shikishima memang sedikit konyol dan dipaksakan. Gerakan-gerakan mereka
baik saat memakai 3D maneuver gear maupun saat berubah menjadi Titan pun berada
di antara “okelah”, “repetitif”, dan “biasa”. Namun bagaimanakah film keduanya
dapat mempengaruh pendapat saya atas film pertamanya? Kita tunggu saja tanggal
penayangannya.